Sabtu, 20 Agustus 2011

YOU MUST ‘LIFE’ !


Assalamualaikum! Salam sejahtera bagi jiwa-jiwa yang selama ini ingin merubah dirinya kearah yang lebih baik, salam semangat bagi anda yang sedang lesu dan putus asa menatap masa depan, mudah-mudahan Allah mencabut rasa putus asa didalam hati anda. Semoga anda pun diberi keberkahan dalam setiap langkah kaki anda. Amin!


Tapi anda harus ingat! Sejak lahir atau sebelum kelahiran anda dimuka bumi ini Tuhan telah memberi izin kepada anda untuk mencari semua kebaikan-kebaikan yang ada dibumi. Tuhan juga telah memberikan rezeki-rezeki-Nya disetiap titik tersembunyi yang anda mempunyai kewajiban untuk menemukannya. Mengapa anda ‘wajib’ mencari rezeki dari-Nya. Tepat! Tuhan tentu sangatlah mengerti akan kebutuhan hidup anda didunia ini, karena itu Dia telah menyiapkan semuanya, tergantung anda mau mencarinya atau tidak, terlepas anda sebagai orang yang malas atau tidak, sadarilah rezeki Tuhan itu sebenarnya sudah disiapkan untuk anda. Jauh sebelum anda hidup, Tuhan telah membentangkan lautan rezeki bagi anda. Sekali lagi! Tergantung anda ingin mencarinya atau tidak.

Terkait dengan rezeki dari Tuhan itu, ada beberapa hal dasar yang perlu anda cermati. Yang pertama ialah anda harus bersyukur kepada Tuhan karena tanpa anda mintapun Dia pasti memberinya. Hanya saja sering anda membuat-Nya bingung untuk memberi dengan cara apa, karena Dia menilai anda sebagai orang yang tidak pantas menerima rezeki dari-Nya. Mengapa bisa seperti itu? Coba anda fikir! Mengapa ada orang kaya dan orang miskin. Bukankah keduanya dilahirkan dalam keadaan yang sama.

Bagi saya, factor keturunannya hanyalah factor pendukung bagi orang kaya.Kebetulan saja ia terlahir dalam keluarga yang berkecukupan atau malah lebih. Tapi sebetulnya jika factor keturunan itu tidak dibarengi dengan rasa syukur terlebih dahulu, saya jamin kekayaan itu tidak dapat bertahan lama. Walaupun kita semua pernah mendengar jika orang itu sudah djiamin 7 keturunan. Tapi itu semua bukan jaminan orang kaya itu bisa bertahan lama. Tergantung pengelolaan kekayaan yang ia terapkan. Bila salah mengelola kekayaan turunan itu, bukan mustahil dia adalah keturunan terakhir yang bisa mencicipi kekayaan hasil dari nenek-moyangnya itu.

Yang selama ini kaya dari hasil keturunan, saya harap jangan tersindir dulu! Ini bukan sindiran bagi anda, ini adalah teguran dari orang miskin. Wah, apa-apaan ini? Mana bisa orang miskin menegur atau menasihati orang kaya, dengan cara apa? Wah, gampang! Orang miskin yang bermental kaya bisa menggertak orang kaya dengan gaya bahasa seperti ini ‘hati-hati kamu mengelola kekayaan turunanmu itu, nanti bisa aku yang meneruskannya’. Ini gila! Mungkin kata itu yang sedang anda teriakkan saat ini. Benar begitu? Baiklah, ini persoalan mental, bukan material, keduanya punya ciri khas masing-masing. Anda mau tahu apa bedanya?

Orang kaya turunan yang saya ceritakan diatas adalah orang kaya yang sebenarnya miskin, tepatnya miskin mental. Apa akibatnya jika mental terganggu? Seperti gertakan orang miskin tadi, orang miskin itu bisa jadi mengambil alih kekayaan dari orang kaya tersebut! Ini bisa terjadi! Bukan tidak mungkin. Sudah saya katakan, jika miskin-kaya itu bukan puncak dari prestasi usaha, kaya-miskin itu merupakan efek samping dari kerja keras, dedikasi, optimisme yang semuanya terdapat didalam mental. Mental ini sangat penting saudaraku! Sebelum kita membahas lebih jauh, saya ingin bertanya kepada anda! Saat ini mental anda sebagai orang kaya atau miskin? Mungkin anda bingung anda berada pada mental yang mana. Tak apa, saya akan jelaskan dengan singkat perbedaan antara mental miskin dan mental kaya. Penasaran?

Mental miskin itu lahir dari pembauran; menentukan target sesuai yang sudah orang lain terapkan, melakukan hal yang sama dengan orang lain tapi menginginkan sesuatu yang lebih, dari segi pengelolaan keuangan mental miskin lebih cenderung berorientasi pada profit saja, dari sisi emosional mental miskin itu menggunakan praktik tusuk sate alias menguntungkan diri sendiri, dalam hubungannya dengan Tuhan ia lebih awal meminta daripada bersyukur. Itu sedikit ciri-ciri orang yang bermental miskin. Tak perduli saat ini ia tampak kaya. Fakta membuktikan, banyak orang-orang kaya yang mati dalam keadaan miskin, mati dalam keadaan frustasi karena kebangkrutan menimpa usaha/bisnisnya, gantung diri karena kecewa pelanggan setianya kabur ke tempat pesaingnya.

Yah, begitulah mental miskin! Adakah salah satu ciri-ciri diatas yang hinggap didalam tubuh anda? Sadari, dan usahakanlah merubahnya menjadi mental kaya. Siap? Lanjutkan! Anda belum mengetahui ciri-ciri mental kaya bukan?
Bagi anda yang ingin mengetahui mental kaya ini, maukah berjanji kepada diri sendiri untuk segera menerapkannya dalam kehidupan anda mulai dari setelah membaca artikel ini? Saya tidak mendengar janji anda? Baiklah, saya dengar anda berguman, YA SAYA AKAN BERUBAH!

Mental kaya itu bersinergi dengan; berfikir dengan menggunakan naluri bukan materi, sekali lagi, na-lu-ri bukan materi, mempunyai system pribadi yang selalu bisa menjadi cerminan semangat bagi orang-orang terdekat, cara menyikapi masalah dengan tetap fokus dengan cara, bukan fokus mencari tahu sebab terjadinya masalah, menilai sesuatu tidak hanya dari apa yang terbaik menurutnya, tapi menurut apa yang paling baik bagi masyarakat (kerendahan hati), paling sering menghargai orang lain yang padahal dia belum tentu sepaham dengan orang itu, karena ia tahu Tuhan telah memberikan akses/izin berbicara/berpendapat kepada semua manusia. Jadi, sebagai pribadi yang taat pada peraturan Tuhan, ia tampil ditengah-tengah masyarakat seakan-akan sedang mendistribusikan pesan Tuhan, karena itu juga mental kaya  sering disebut sebagai problem solver (pemecah masalah).

Ini adalah bagian paling dasar (inti) dari pembentukan mental kaya, masih banyak ciri-ciri yang nantinya anda dapati ketika memang anda memutuskan untuk bermental sebagai seorang juara alias bermental kaya.
Anda harus LEBIH HIDUP dari kehidupan anda sebelumnya! Saya fikir kata-kata penyemangat yang baru saja saya katakan sangat mudah untuk dicerna. Bukan begitu?

Bukankah tujuan Tuhan menciptakan anda didunia ini untuk saling membahagiakan antar sesama? Pertanyaan saya, bagaimana status hidup anda dimata Tuhan jika sampai hari ini anda masih belum membuktikan kepada-Nya untuk menjadi pelita bagi orang lain? Baiknya, anda sendiri yang menjawabnya. Buktikan pada Tuhan, jika Dia tidak salah menghidupkan anda didunia ini? Buktikan juga pada-Nya jika anda akan berusaha menjaga kepercayaan-Nya didalam menjalani kehidupan didunia ini. Buktikan!

Karena Tuhan telah karuniakan kehidupan pada anda hari ini, apa yang akan anda lakukan hari ini? Masih bersikap individualis atau membangun hubungan harmonis antar sesama manusia? Apakah anda lupa tujuan Tuhan menciptakan manusia selain anda adalah untuk saling berbagi, saling menjaga, saling mencintai? Anda jangan lupa asal usul itu. Anda punya tanggung jawab untuk mengingatkan dan membantu orang-orang disekitar anda. Tapi, sebelum itu tentulah anda harus menjadikan diri anda sebagai Pilot Project?

Nah, inilah tantangan bagi anda! Terkesan aneh, jika anda senang menasihati orang lain untuk berada pada jalan kebaikan sedangkan anda sendiri masih saja melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam kebaikan. Seorang guru agama tentunya lebih awal mencontohkan secara kongkrit kepada anak-anak murid akan nilai tata krama dalam berbicara, perilaku terpuji dalam keseharian. Bayangkan saja, seorang guru agama yang suka berceramah saat mengajar didalam kelas kepada siswa/I mengenai sholat tepat waktu, tapi sesaat adzan berkumandang ia tak segera menuju musholla untuk menunaikan sholat tepat waktu. Tentu saja cerminan dari perilaku yang plin-plan dari guru agama ini sedikit tidaknya menjadi sebuah penilaian dihadapan anak muridnya dan pastilah anak-anak yang masih labil tadi menjadi bingung atas perilaku guru agamanya yang tidak sesuai dengan teori yang diajarkannya didalam kelas tadi.
Mengapa harus guru agama? Tidak, ini hanya sekedar contoh. Barangkali anda mempunyai contoh lain, silahkan anda beradaptasi darinya, itu terserah anda, mungkin anda ingin mencontohkan guru fisika, guru matematika, guru geografi, atau guru pencak silat mungkin?

Hal-hal kecil dan kelihatan sepele seperti diatas sering bahkan sangat sering menjadi penghambat pertumbuhan mental yang baik. Terus terang saja, seringkali mental itu terbentuk dari perangai kita sehari-hari, ditambah dengan lingkungan yang kurang atau tidak mendukung, sudahlah lengkappenderitaan seorang manusia yang ingin tumbuh.

Lalu apa yang harus anda lakukan agar mental anda terdidik dengan baik? Apa yang harus anda biasakan agar anda menjadi pribadi yang menyenangkan setiap harinya? Langkah apa yang mesti anda ikuti agar semua konsumen gemar membeli dan menggunakan produk-produk anda? Dan strategi apa yang seharusnya anda terapkan agar anda sukses menjalin hubungan baik, bersama garis horizontal (sesama manusia) maupun vertical (Tuhan)? Tunggu jawabannya pada artikel saya selanjutnya!

Salam Perubahan!



Mohd Teguh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar