Sabtu, 20 Agustus 2011

NIKAH ATAU PACARAN? MANA YANG LEBIH NIKMAT?


Salam sejahtera bagi  anda semua. Mudah-mudahan hari ini kita mampu berusaha memperbaiki akhlak, mengapa harus akhlak? Pertanyaan yang bagus! Saya ingin mengingatkan anda jika Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SAW ke bumi hanya untuk memperbaiki akhlak manusia. Nabi Muhammad diajarkan nilai-nilai keramahtamahan antar sesama makhluk oleh Allah. Tak lain dan tidak mungkin tidak ada makna yang tersimpan dibalik pengutusan Nabi Muhammad menjadi Rasul-Nya. Secara sederhana saya dapat mempelajari, bahwa memang akhlak adalah pangkal dari semua aktivitas kita. Jika anda setuju dengan saya, apakah hari ini anda akan berjanji kepada diri anda sendiri (disaksikan Allah dan malaikat-Nya) agar meninggalkan akhlak yang tidak terpuji? Bila anda sudah berjanji, saya ucapkan terima kasih. Mudah-mudahan karena kebaikan akhlak anda, anda pantas mencium bau surga kelak. Amin.


Baiklah, hari ini anda sedang membaca sebuah praktik cinta yang selama ini terpecah menjadi kedalam beberapa output. Mungkin, tanpa teori yang berlebihan, anda pun termasuk orang yang selama ini menyaksikan praktik-praktik output dari cinta ini. Bisa jadi sekarang anda sedang berada diantara keduanya. Kalau boleh saya prediksi hanya ada 2 keinginan yang sedang anda jalani sekarang ini. Anda ingin pacaran atau ingin menikah! Benar, jika benar, anda tidak usah malu-malu mengakuinya. Saya bersyukur anda masih mempunyai rasa cinta, itu artinya anda memang masih normal, normal untuk mencintai. Itu maksud saya!

Hari ini kita sama-sama dapat belajar untung & ruginya ketika memilih output cinta itu. Baik pacaran maupun menikah. Memang dominasi output 1 (pacaran) selama ini masih terus eksis. Otomatis output 2 (menikah) kian surut. Sebenarnya apa yang sedang terjadi belakangan ini? Anda bisa bantu saya untuk menjelaskan hal tersebut? Baiklah, saya meminta izin kepada anda untuk membahasnya lebih dulu. Jika anda bersedia, berarti anda harus mau untuk menyimak beberapa ulasan singkat dibawah ini mengenai hiruk pikuk dari output cinta ini (pacaran & menikah).

Dari sisi agama Islam jelas-jelas pacaran itu bukan solusi output cinta yang tepat. Didalam agama, banyak diajarkan bagaimana seharusnya kita menyikapi diri kita sendiri saat kita sedang bingung ingin pacaran atau menikah. Anda pantas untuk bingung, mungkin anda perlu belajar tentang Bab Cinta dalam agama ini. Memang Allah sendiri mengatakan jika Dia telah menciptakan manusia dalam keadaan yang suka berbantah, namun jangan karena hal itu anda langsung membantah saya. Perhatikan lebih dulu apa yang ingin saya katakan. Oke?

Harusnya jika memang anda orang yang taat pada peraturan, patuh pada hukum, dan taat beragama, anda terlalu sombong jika membantah apa yang Allah telah atur. Sekali lagi, dalam perspektif agama Islam jelas-jelas tidak mengenal istilah pacaran, saya ulangi lagi, tidak ada istilah pacaran, pa-ca-ran! Ini kata siapa kawan-kawan? Ini kata Allah sob, Dzat Yang Mengetahui segalanya. Dia yang telah menitipkan rasa cinta kepada kita, pasti Dia-lah juga yang lebih mengerti kemana & bagaimana kita menghadapi persoalan cinta ini. Sekali lagi, jangan berbantah dan kebanyakan mikir.
Jangan sekali-kali gunakan rasionalitas untuk menerima ayat-ayat Allah.

Ingat cerita Nabi Musa saat ditegur oleh Allah. Bila lupa, saya ingatkan! Begini, dulu Nabi Musa pernah meminta agar Allah memperlihatkan wujud-Nya. Musa bersikeras agar dapat melihat Allah. Dan seketika itu Allah menjawab keinginan Nabi Musa. Namun apa yang terjadi? Jangankan melihat Allah, cahaya suci-Nya saja tak sanggup dilihat oleh Nabi Musa! Cerita nabi musa seharusnya memukul hati kita yang suka berbantah-bantahan mengenai peraturan-peraturan dari Allah. Sekali lagi tak usah banyak tanya, lewat agama yang sejahtera dan selamat ini (islam) memang tidak mengenal pacaran. Jika begitu islam melarang untuk menyalurkan rasa cinta kepada sesama? Oh, tidak. Sekali lagi tidak.
Cinta itu fitrah manusia, rasa cinta itu dihadirkan oleh Allah agar manusia bisa hidup dengan damai, bisa saling mempunyai keprihatinan antar sesama.

Tapi sayangnya, oleh manusia yang belum belajar banyak mengenal cinta, sudah jauh diartikan secara sepihak dan mengedepankan nafsu. Dulu syaitan pernah berdialog dengan Nabi Muhammad. Kurang lebih maknanya seperti ini. “Wahai Muhammad! Memang umatmu adalah umat yang paling cerdas dibandingkan seluruh umat-umat dari nabi-nabi terdahulu, tapi karena kecerdasannya itu aku punya celah untuk menggodanya”. Anda bisa belajar apa tentang dialog antara syaitan dan Nabi Muhammad ini?

Saya telah belajar, jika seringkali kita tergoda karena kecerdasan kita sendiri dalam melogikakan semua hal yang padahal tidak semuanya bisa dilogikakan. Lupakah kita? Jika secerdas apapun orang itu, tidak akan mungkin sanggup menyentuh zona terendah dari apa yang telah digariskan di lauhim mahfuz ini. Bila anda sudah tahu ini tentulah anda akan menjadi pribadi yang tawakkal atau rendah hati. Anda pernah mendengar isitlah investasi ego? Baik, yang dimaksud dengan investasi ego itu ialah usaha kita untuk meninggalkan ego kita jauh dibelakang hanya untuk belajar tentang ilmu perubahan. Dan ini bukan ilmu main-main. Ilmu cinta ini datangnya dari Yang Maha Mengetahui. Allah SWT.
Saya menebak jika saat ini anda sudah sedikit merendahkan diri untuk belajar ilmu perubahan, tepatnya ilmu berubah dalam memaknai dan menjalani cinta.

Baik, apakah anda pernah bertanya didalam hati seperti ini? “mengapa islam melarang untuk pacaran, padahal saya tidak ngapa-ngapain” Alhamdulillah jika anda tidak bertanya seperti itu. Jika ada, maaf, anda harus banyak-banyak belajar bagaimana agama kita mengajarkan dalam hal bercinta. Bukan maksud untuk menggurui anda, tapi kembali ingin saya katakan mengapa kita terlalu keras kepala saat ini. Istighfar-lah!

Mungkin ada lagi yang berpendapat. Hidup ini adalah pilihan! Termasuk urusan cinta, saya punya pilihan sendiri. Mau pacaran kek, nikah kek, ini adalah pilihan saya! Penulis mau bilang apa? Benar! Anda benar, jika anda memang mempunyai asumsi seperti itu izinkan saya untuk menghimbau jika Agama Islam tidak pernah mengenal istilah pacaran, bagi yang merasa islam harusnya patuh akan himbauan ini. Dan ini bukan himbauan dari penulis, tapi dari yang menciptakan penulis. Allah SWT. Saya balik bertanya sekarang? Jika ini dari Allah, anda mau bilang apa?

Demi Allah, sedikitpun saya tidak ingin menyombongkan diri karena merasa lebih tahu. Tidak! Sama sekali tidak, sekali lagi saya katakan, ti-dak. TIDAK! Lewat tulisan ini saya hanya ingin saling mengingatkan mana yang berlaku dalam agama islam dan mana yang tidak. Kecuali orang yang tidak beragama, mereka sangat jijik membaca tulisan saya ini.
Bicara mengenai kenikmatan. Jujur saya katakan jika pacaran dan menikah itu tidak bisa disamakan. Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan. Satunya kurang, dan satunya lagi lebih, tidak kurang, adil kan?
Bila tak sanggup menikah karena urusan modal, didalam Al-Quran Allah mengajarkan kita untuk lebih dulu mensucikan diri dan belajar mempersiapkan diri. Karena walaubagaimana pun, pernikahan itu perlu persiapan. Bagi anda yang ingin segera menikah saya sarankan untuk membaca buku Nikah Muda? Siapa Takut!-versi kebelet nikah Karya Mohd Teguh (hubungi: 085277910676)

Agar tak panjang lebar dalam memahaminya. Saya sederhanakan melalui beberapa pandangan yang mungkin mudah untuk dicerna oleh otak anda.

1.      Pacaran itu ada karena cinta, menikah itu juga karena cinta. Islam menganjurkan untuk menikah bukan berpacaran. Apapun alasan anda, itulah yang dianjurkan dalam agama Islam!

2.      Pacaran itu nikmat karena cinta, menikah itu juga nikmat karena cinta. Apa yang membedakan diantara keduanya? Kenikmatan dalam berpacaran lahir dari nafsu duniawi saja, jika kenikmatan menikah timbul karena kebutuhan duniawi dan ukhrawi (dunia & akhirat). Jelaskan?

Sekarang pilihan ada ditangan anda! Mau pacaran dulu atau menikah dulu baru ‘pacaran’!

Selamat bercinta!



Wassalam



Mohd Teguh P Ir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar